Showing posts with label laskarpelangi. Show all posts
Showing posts with label laskarpelangi. Show all posts

Thursday, October 9, 2008

Menelepon "Ikal" Zulfany

Ha..
Atas kemurahan hati ibu Produser Cerita Anak Trans, hari Selasa lalu aku bisa telepon si Ikal Zulfany. Tadinya sih niat banget ingin membuntuti Ria ini ke Belitong (sumpah Ria, aku akan mengabdi seperti A-Kiong mengabdi pada  Mahar ha ha ha) untuk melihat shooting yang melibatkan anak-anak pemeran Laskar Pelangi; dan kuharap aku bisa bertemu dan berkenalanan dengan mereka. Ternyata Ria sudah ada di sonooooo.. arrhhh..

Aih, kentara ya ndesonya aku :D

Masih  mending lah daripada mengais-ngais Ria kalo Ariel Peterpan shooting di Trans mbok aku dikasi undangan :D. Lhaaa ke Saswie aja aku minta dijadikan cameo di Shooting sinema 3G nya di TPI.. (dan dia cuman bisa  bilang heu heu). Sekalian aja minta dikenalin sama Changcuter atuh? Eu..

Teuing ah, late 30, makin ga jaim aja deh.. (why bother?)

Tapi Ria ini memang de bes deh, aku cuman titip salam sun cup cup buat Ikal.. Eh malah ditawarin bicara. Ihiks. Deg-degan euyyyy.. Kayak si Ikal lihat kukunya A-Ling aja deh..

Kudengan Ria bilang: Ikal, ini tante Ayi, mau bicara..

Then terdengar suara cemprengnya Ikal:
Halo Tant.. (ha ha ha.. gue dipanggil tant)

Kubasa-basi, senang ga shooting (Gaaaaa.. capeeekkk)
Kugoda2in, itu adegan kapurrrr pengalaman ya? (Ihh enggakkk)

Wah ternyata si pemeran Ikal ini sudah kelas 2 SMP, lhooo aku malah ngobrol kayak ke anak 9 tahun :P salah ya? Lucu, suaranya masih kanak-kanak banget. Jadi terbayang akting dia di film Laskar Pelangi.

Ikal kemudian bilang besok akan ke Jakarta (Rabu, red). Ternyata Rabu itu SBY menonton Laskar Pelangi dan mengundang para pemeran. Menurut Ria, itu anak-anak ga tahu kalo hari Rabu itu akan bertemu orang numero Uno di Republik ini (hmm kampanyeuuu ya kampanyeuuu curi start? - idih nuduh aja). Pan surprise..

Hehehe..
Mungkin ini termasuk hal norak yang aku lakuin? Maklum selama ini sengefans-ngefansnya aku sama selebs, ga sampe deh numpang nelepon segala. Hm, kecuali pas Capung ketemu temen-temen SMA 3 di rujak Macan (ih aku patah hati ga kesampean foto bersama); Saswie yang koq cuman 1 kali aja sih foto bersama (kenapa jadi nge fans sama Saswie sih?!).  Ariel Ariel? Pasha? Aa Gym? Hahhh..

Ah kalo ke Kampus ketemu BR, minta foto ahhhh.. (pleaseeee deh)

-a-

Tuesday, October 7, 2008

Terusik Laskar Pelangi

Omong-omong tentang Laskar Pelangi, tentu tokoh Lintang yang paling mengoyak-ngoyak hati kan? Terengut oleh nasib sehingga terpisahkan dengan kecintaanya terhadap belajar. [sementara di belahan dunia lain, banyak anak mengabaikan belajar meski tahu kedua orang tuanya pontang-panting membiayainya]

Tapi aku lebih terusik ketika Ikal menceritakan tentang Trapani dan Ibunya. Ah, terasa menyakitkan tentu melihat orang yang kita cintai menderita karena sakit atas jiwa-jiwa mereka. Aku selalu merasa tertusuk jika harus melihat kisah penderitaan jiwa meski mungkin saja ulah sendiri, ato mungkin saja memang bukan pilihan? [sementara di belajah dunia lain, banyak orang tidak bisa merasakan sakitnya orang-orang sekitar karena sudah kebal akan penderitaannya sendiri. dimana empati itu?]

Tapi aku bahagia sekali atas kisah tentang Syahdan (ah kenapa dia begitu tidak diekspos hihihi); bagiku dia panutan :D ya iya lah, karena diceritakan Syahdan bergerak di bidang IT, sudah CCIE (?). Padahal dulunya ia begitu diabaikan.. KAN, mau jadi orang IT memang tidak harus pintarrrrr.. ha ha ha..

Ingin rasanya bisa bertemu dengannya ;)

Menonton Laskar Pelangi

Hari minggu lalu, hari-hari terakhir puasa; aku, mas, kaka, dan neng menyempatkan menonton Laskar Pelangi di Blitz PvJ. Jarang-jarang aku menonton di Bioskop, terbatas biaya dan waktu, kecuali film Kartun dan Serial anak seperti Harry Potter dan Spiderman yang kami sempatkan. Film Indonesia? Eu, belum ada yang kutonton hihihi. Bukan tidak cinta produksi dalam negeri, tapi aku prefer mencari aktivitas yang bisa dilakukan berempat: 2 orang dewasa dan 2 anak-anak. Makanya, menonton Laskar Pelangi memenuhi kriteria ini.
 
Menjelang film, mas dan aku sibuk mereka-reka, apakah akan menggerakkan hati beku ini seperti bukunya? Bagaimanakah para laskar pelangi itu wujudnya? Sesuai yang dibayangkan? Kalo Neng, aku iming2in kita mau melihat si Bolang dari Belitong (Bolang: Bocah Petualang, serial petualangan anak diputar di Trans7, fave nya Neng).  Sementara Kaka, aku usik karena dia blm juga menamatkan Buku Seri pertama Andrea Hirata itu. Bukan salah bukunya, tapi memang nih anak susah sekali diminta membaca detail. Ugh. Sudah jagoan skimming dan scanning rupanya :D. Buat dia, yang penting main ide ceritanyanya, bukan alurnya..

Ketika film diputar, mataku tak berhenti berkaca-kaca.. aku dibiuskan oleh pemandangan yang indah, setting tahun 70-an (ups, kenapa Ikal menggunakan kaos berkerah? Rasanya kaos Polo musim di tahun 80-an di anak kota?); gambaran buram kesenjangan kehidupan yang coba diangkat. Hm.. ya, seperti yang aku bayangkan. Oh, sepertinya film difokuskan mengangkat kehidupan guru; sehingga hal yang lebih mencabik hati ini, yaitu kehidupan "raja-raja jawa" di PN Timah dengan penduduk asli; tidak begitu terekspos.. [Maklum, /me pro sosialis ha ha ha]

Film berlanjut. Aku mulai keberatan, ketika dialog tentang guru begitu dikedepankan. Film menjadi berat. Neng tidak bisa menikmati. Padahal ketika aku membaca bukunya; tidak perlu eksplisit, aku sudah BISA merasakan kegetiran-kegetiran itu. Mungkin kalo di film harus dinyatakan dengan jelas ya? Dialog Cut Mini dan Ikranegara, Tora, Slamet Rahardjo yang aku cari-cari di buku, ga ada tuh hihihihihi..

Tapi selanjutnya, itu semua terbayar dengan pemandangan yang indah, cerita tentang anak-anak laskar pelangi yang menyempurnakan bayanganku tentang mereka. Yah mirip si Bolang, dan Neng pun bisa menikmati. Kaka pun tersipu-sipu akan kisah Ikal-Aling. Aih, ABG banget sih.. Anak-anak asli Belitong yang mempesona..

Dan akupun makin tidak keberatan karena perbedaan buku dan filmnya. Juga tidak keberatan ketika anak yang terekspos sebatas Ikal Lintang Mahar, toh memang itulah yang teristimewa. Yang di buku banyak berlatarkan kelas 2 SMP, sedang di film adalah cerita tentang anak kelas 5. Di buku, dikatakan ada guru kelas 4, guru-guru, adik kelas dll; artinya tidak hanya ada 11 murid saja di Sekolah Muhammadyah, tapi di film benar-benar diekspos bahwa segelintir itulah murid-muridnya. Di film, pak Harpan dimatikan, ups. Di buku, sampe A Kiong disunat dan menikahi Zahara, tetap disebut dan bahkan ketika Mahar meluncurkan buku kan (dan Ikal sudah ke Perancis).

Lama-lama pun, ah. why bother dengan perbedaan itu semua. Aku sama sekali ga keberatan :). Malah merasa mendapat dua kisah sekaligus. Dua-duanya menoreh hatiku, terpatri dalam-dalam. AH senangnya..

Terima kasih untuk Andrea Hirata yang sudah mengarang buku ini, terima kasih kepada Miles yang sudah mewujudkannya menjadi film.